Ghuwul, atau lebih dikenal sebagai “ghoul” dalam bahasa Inggris, adalah makhluk mitologis yang banyak dikenal dalam folklore Arab dan berbagai tradisi lainnya di seluruh dunia. Meskipun interpretasi dan deskripsi tentang ghuwul bervariasi di berbagai budaya, pada intinya, makhluk ini sering digambarkan sebagai sosok jahat yang suka memakan daging manusia, terutama mayat. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi sejarah, asal-usul, evolusi makhluk ini, serta pandangan Islam terhadap ghuwul dan dalil-dalil yang melarangnya.

Asal-Usul dan Sejarah Ghuwul
Asal-usul ghuwul dapat ditelusuri kembali ke mitologi kuno Timur Tengah, khususnya dari Mesopotamia. Diyakini bahwa konsep awal ghuwul berasal dari mitos Akkadia tentang gallu, sejenis setan yang sering dikaitkan dengan kematian dan dunia bawah. Dari Mesopotamia, konsep ini menyebar ke dunia Arab, di mana ghuwul muncul dalam berbagai cerita dan legenda pra-Islam. https://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/strange-creatures/ghoul4.htm + https://pantheon.org/articles/g/ghoul.html
Dalam folklore Arab, ghuwul sering digambarkan sebagai makhluk yang dapat berubah bentuk, mampu menyamar sebagai wanita cantik untuk menarik pria ke tempat terpencil sebelum membunuh dan memakan mereka. Makhluk ini juga dikaitkan dengan gurun, tempat di mana mereka berburu musafir yang tersesat. https://mythology.net/monsters/ghoul/
Ghuwul juga menemukan jalannya ke dalam sastra populer melalui karya-karya seperti “Seribu Satu Malam” (One Thousand and One Nights). Cerita-cerita ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa, terutama oleh Antoine Galland, yang membantu memperkenalkan konsep ghuwul ke dunia Barat. Namun, terjemahan ini sering kali ditambah atau diubah, menyebabkan persepsi ghuwul di Eropa berbeda dari versi aslinya di Timur Tengah. Dalam versi Eropa, ghuwul lebih sering digambarkan sebagai makhluk yang memakan mayat di kuburan, sebuah konsep yang tidak terlalu menonjol dalam folklore Arab asli. https://www.britannica.com/topic/ghoul
Ghuwul dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, ghuwul dianggap sebagai salah satu jenis setan atau jin yang diciptakan oleh Iblis. Pandangan ini sejalan dengan pemahaman bahwa ghuwul adalah makhluk jahat yang berusaha menyesatkan dan mencelakai manusia. Meskipun ghuwul tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, beberapa hadits menyebutkan tentang keberadaan dan bahaya makhluk ini.
Salah satu sahabat Nabi Muhammad, Abu Said Al-Khudri, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ghuwul tidak dapat menyebabkan bahaya pada orang-orang yang beriman dan kuat dalam iman mereka. Namun, beberapa ulama memperdebatkan keotentikan hadits ini. Ada juga catatan tentang Umar bin Khattab yang konon pernah membunuh ghuwul dalam perjalanannya ke Suriah. https://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/strange-creatures/ghoul4.htm
Larangan Terhadap Kepercayaan dan Praktik Terkait Ghuwul dalam Islam
Islam secara tegas melarang kepercayaan pada makhluk-makhluk gaib yang dapat menyesatkan, termasuk ghuwul, karena hal ini dapat mengarah pada syirik (menyekutukan Allah). Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menyembah selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106)
Ayat ini menegaskan bahwa mempercayai dan meminta bantuan kepada makhluk selain Allah, termasuk jin dan setan seperti ghuwul, adalah perbuatan yang dilarang dan termasuk dalam syirik.
Selain itu, berbagai ritual atau praktik yang terkait dengan kepercayaan kepada ghuwul atau makhluk sejenisnya, seperti pesugihan, juga dilarang dalam Islam karena termasuk dalam tindakan syirik yang dapat menghilangkan tauhid dan keimanan seseorang.
Kesimpulan
Ghuwul adalah makhluk mitologis yang berasal dari folklore Arab dan telah mengalami banyak evolusi dalam berbagai budaya. Dalam Islam, kepercayaan terhadap ghuwul dan praktik yang terkait dengannya dilarang keras karena dapat menyesatkan dan termasuk dalam syirik. Muslim dianjurkan untuk hanya bergantung kepada Allah SWT dan menjauhi segala bentuk penyembahan atau permintaan bantuan kepada makhluk selain-Nya.
“Semoga senantiasa dilimpahkan segala sesuatu kebaikan dunia akhirat untuk Rasulullah Nabi Muhammad SAW serta seluruh keluarga, sahabat, keturunan, murid dan umat beliau, Aamiin Allahuma aamiin, Shallallah Ala Muhammad.”