Profil dan Sejarah
Rabi’ah al-Adawiyyah (714-801 M) adalah salah seorang sufi wanita yang paling terkenal dalam sejarah Islam, dikenal sebagai seorang saintis spiritual dan mistikus. Beliau lahir di Basra, Irak, dalam keluarga miskin dan menghadapi kehidupan yang penuh kesulitan sejak usia dini. Meskipun dalam keadaan kesusahan, beliau menunjukkan dedikasi yang luar biasa kepada Allah dan mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi.

Sejarah Hidup
Rabi’ah al-Adawiyyah lahir pada tahun 714 M di Basra, di mana beliau mengalami kemiskinan dan kekurangan pada masa kecilnya. Setelah kematian orangtuanya, beliau dijual sebagai budak. Namun, setelah dibebaskan dari perbudakan, beliau memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Beliau memilih kehidupan kesendirian dan pengabdian, menjauhkan diri dari kesenangan duniawi dan fokus pada ibadah serta pengetahuan spiritual.
Rabi’ah terkenal dengan ajaran tentang cinta dan pengabdian kepada Allah yang murni. Beliau mengajarkan bahwa cinta sejati kepada Allah tidak memerlukan imbalan atau harapan akan surga, melainkan merupakan bentuk pengabdian yang tulus dan sepenuh hati.
Karomah dan Miracles
Rabi’ah al-Adawiyyah dikenal memiliki berbagai karomah (kemampuan spiritual) yang menunjukkan kedekatannya dengan Allah. Beberapa karomah beliau yang terkenal meliputi:
- Kemampuan untuk Berbicara dengan Allah: Rabi’ah dikenal karena pengalaman spiritualnya yang mendalam dan kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan Allah. Beliau sering berbicara tentang cinta dan pengabdian yang tulus kepada Allah dalam bentuk puisi dan doa.
- Kedalaman Pengetahuan Spiritual: Beliau memiliki pengetahuan yang mendalam tentang agama dan tasawuf, yang beliau sampaikan melalui ajaran-ajarannya. Karya-karya beliau menunjukkan wawasan spiritual yang mendalam dan pemahaman yang luas tentang hakikat cinta kepada Allah.
- Keberanian dan Ketaatan yang Tangguh: Rabi’ah menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip-prinsip keimanan dan ketaatan. Beliau dikenal tidak tergoyahkan oleh godaan duniawi dan selalu berpegang teguh pada ajaran agama.
- Sifat Kebajikan dan Kebaikan: Beliau dikenal karena sifatnya yang murah hati dan penuh kasih. Rabi’ah sering melakukan amal dan membantu orang-orang yang membutuhkan, mencerminkan pengabdian dan cinta sejatinya kepada Allah.
Pendapat Orang Lain
Pendapat tentang Rabi’ah al-Adawiyyah sangat positif, baik dari kalangan ulama maupun masyarakat umum. Beliau dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari kehidupan sufi yang sejati. Para ulama dan pemikir Islam sering memuji kedalaman spiritual dan ketaatan beliau, serta kontribusinya terhadap pengembangan tasawuf dan spiritualitas Islam.
Sejumlah tokoh terkenal seperti Imam al-Ghazali dan Ibn al-Jawzi pernah menulis tentang kebajikan dan ketinggian spiritual Rabi’ah al-Adawiyyah, dan beliau sering menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang mencari kedekatan dengan Allah.
Wirid atau Ijazah
Salah satu wirid yang terkenal dari Rabi’ah al-Adawiyyah adalah doa berikut:
“Ya Allah, jika Engkau memasukkan aku ke dalam surga, janganlah aku merasa tenang sampai aku melihat wajah-Mu. Dan jika Engkau menempatkanku di neraka, aku tidak akan merasa cemas, karena aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang.”
Doa ini mencerminkan rasa cinta dan pengabdian beliau yang tulus kepada Allah, serta keyakinan bahwa cinta kepada Allah lebih penting daripada semua imbalan duniawi atau akhirat.
Kutipan dari Rabi’ah al-Adawiyyah
Salah satu kutipan terkenal dari Rabi’ah al-Adawiyyah adalah:
“Cintailah Allah karena Allah sendiri, dan janganlah mencintai-Nya karena harapan akan surga atau takut akan neraka. Cintailah Allah dengan sepenuh hati dan dedikasi.”
Dalil tentang Wali Allah
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman mengenai Wali Allah:
“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.S. Yunus: 62)
Dan juga:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah: 274)
Hadis tentang Wali Allah juga menyebutkan:
“Allah berkata, ‘Aku akan menjadi mata yang mereka lihat dengan itu, telinga yang mereka dengar dengan itu, tangan yang mereka gunakan, dan kaki yang mereka berjalan dengannya. Jika mereka meminta kepada-Ku, Aku akan memberi mereka; dan jika mereka meminta perlindungan, Aku akan melindungi mereka.'” (Hadis Qudsi)
Karakteristik Wali Allah menurut Al-Qur’an dan Hadis meliputi kedekatan dengan Allah, keteguhan iman, dan ketaatan yang tulus. Rabi’ah al-Adawiyyah, dengan pengabdian, cinta, dan ketaatan beliau yang mendalam, mencerminkan ciri-ciri tersebut dan dengan demikian dapat dianggap sebagai seorang wali Allah dalam pandangan tasawuf Islam.
“Semoga senantiasa dilimpahkan segala sesuatu kebaikan dunia akhirat untuk Rasulullah Nabi Muhammad SAW serta seluruh keluarga, sahabat, keturunan, murid dan umat beliau, Aamiin Allahuma aamiin, Shallallah Ala Muhammad.”